Latifah dan Ipah, Dua Ibu yang Kehilangan Banyak Hal dalam Satu Malam : Rumah, Dagangan hingga Mimpi Anak-anak

img

Lokasi  pascakebakaran Danau Aji, Tenggarong yang menyisakan puing-puing. (Kriz)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Dua hari setelah kebakaran menghanguskan permukiman warga di kawasan Danau Aji, api memang telah padam. Namun, bagi mereka yang kehilangan, peristiwa itu masih menyisakan beban yang tidak dilupakan.

 

Rumah yang selama ini menjadi tempat keluarga berkumpul, barang yang menjadi sumber penghasilan, hingga benda-benda yang memiliki kenangan tidak semuanya bisa kembali.

 

Bagi korban, kehilangan tersebut bukan hanya soal nilai barang, tetapi tentang kehidupan yang tiba-tiba berubah dan harus dijalani dengan kondisi berbeda.

 

Salah satunya dirasakan Hj. Latifah (45), perempuan yang sehari-hari berjualan buah itu masih sulit mempercayai bahwa rumah yang selama ini ditempatinya bersama keluarga kini sebagian besar telah habis terbakar.

 

“Saya perasaannya kayak mimpi. Ini mimpi kah nyata? Ya Allah, ternyata dilihat lagi nyata. Dilihat lagi tidak percaya, karena saya itu sekilas itu, secepat itu,” ujarnya saat ditemui Rabu (7/10/2026).

 

Bagi Latifah, kenyataan tersebut terasa semakin berat karena barang-barang yang berada di dalam rumah juga tidak semuanya dapat diselamatkan.

 

“Biarpun barang dikeluarkan, hancur semua. Hancur, hancur,” kata dia.

 

Rumah yang menjadi tempat keluarganya menjalani keseharian kini hanya menyisakan bagian kecil yang masih dapat digunakan.

 

Latifah pun harus menjalani hari bersama anak-anaknya dalam kondisi yang jauh berbeda dari sebelum kebakaran.

 

Malam setelah kejadian menjadi salah satu waktu yang sulit baginya. Ia mengaku tidak tidur dan lebih banyak duduk memikirkan keadaan keluarga.

 

Di tengah pikirannya, ucapan anak bungsunya tentang rumah yang terbakar masih teringat jelas.

 

“Masa rumah saya terbakar?” kata Latifah, mengulang ucapan anaknya.

 

Empat anak Latifah masih bersekolah, sementara satu lainnya telah menikah. Kondisi tersebut membuatnya tidak bisa hanya memikirkan kesedihan karena kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.

 

Sebelum kebakaran, aktivitas Latifah dimulai sejak dini hari. Ia terbiasa bangun sekitar pukul 03.00 WITA untuk menyiapkan keperluan berjualan dan sekitar pukul 08.00 WITA sudah harus berangkat.

 

Rutinitas itu kini justru menjadi sesuatu yang terasa berat ketika diingat.

 

“Dulu saya jam tiga bangun subuh. Tapi kalau ingat itu, rasanya sedih banget. Karena kami ini mau jualan kan, jam 8 harus berangkat,” tuturnya.

 

Di tengah kehilangan tersebut, Latifah bersyukur karena bantuan mulai datang dari berbagai pihak.

 

Bantuan makanan, menurutnya, sangat membantu warga dalam memenuhi kebutuhan setelah kebakaran.

 

Tetapi ada satu pemberian yang membuat perasaan Latifah jauh lebih tersentuh.

 

Anak-anak dari lingkungan SDN 009 tempat anaknya bersekolah datang memberikan uang dengan nominal Rp2 ribu, Rp5 ribu hingga Rp20 ribu.

 

Nominal tersebut bukan yang menjadi perhatian Latifah. Ia justru teringat bahwa sebelumnya dirinya pernah memberikan kepada anak-anak tersebut.

 

“Rasanya sedih. Sedih tadinya itu, masa iya anak-anak ngasih saya,” ucapnya dengan nada tersedu-sedu.

 

Ingatan itu membuat Latifah tidak kuasa menahan air mata. Ia merasa pemberian tersebut menjadi bentuk balasan atas kebaikan yang pernah dilakukannya.

 

“Dulu saya ngasih anak-anak ini, balasannya di situ. Air mata tiba jatuh di situ, sedihnya,” ujarnya.

 

Meski menerima bantuan, Latifah tidak ingin kehidupannya terus bergantung kepada orang lain.

 

Ia ingin kembali mencari penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarganya dengan kemampuannya sendiri.

 

“Yang penting dulu saya sekarang bisa hidup dulu, dari nol, kosong,” kata dia.

 

Bantuan dari siapa pun tetap ia terima dengan senang hati. Namun, keinginan untuk kembali bekerja tetap menjadi bagian dari pikirannya setelah kehilangan rumah dan barang-barang.

 

“Dengan tangan saya sendiri, saya harus berjuang sendiri. Kalau orang membantu saya dengan senang hati, pintu terbuka,” tuturnya.

 

Selain kehilangan tempat tinggal dan barang-barang rumah tangga, Latifah juga harus menghitung kembali nilai aset yang lenyap dalam kebakaran.

 

Ia memperkirakan total kerugian yang dialaminya mencapai ratusan juta rupiah.

 

“Kalau dihitung-hitung, kerugian saya mungkin ratusan juta juga,” ujarnya.

 

Bagi Latifah, nilai tersebut kini bukan lagi sekadar angka. Di dalamnya terdapat rumah, barang-barang yang dikumpulkan selama bertahun-tahun, serta kebutuhan keluarga yang sebelumnya sudah dimiliki.

 

Cerita berbeda datang dari Ipah Ardian (55). Seperti Latifah, ia juga kehilangan rumah dalam kebakaran Danau Aji.

 

Namun, bagi Ipah, rumah tersebut menyimpan kenangan yang membuat kehilangan terasa lebih berat.

 

Rumah itu menjadi tempat anak-anaknya tumbuh, bersekolah dan memiliki banyak kenangan. Lingkungan di sekitarnya juga telah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya selama bertahun-tahun.

 

“Yang berat, Nak, tinggalkan rumah itu, itu rumah kenangan. Dengan lingkungan, anak saya sekolah di situ, tempat ngajinya di situ,” ujarnya sambil meneteskan air mata.

 

Setelah rumah tidak lagi dapat ditempati seperti sebelumnya, anak-anak Ipah sementara tinggal di rumah saudara yang lebih tua. Tiga anaknya masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

 

Di sisi lain, Ipah juga harus menghadapi kehilangan barang dagangan.

 

Ia yang sehari-hari berjualan kosmetik dari rumah, saat kebakaran terjadi, keluarga sempat berusaha mengeluarkan barang-barang tersebut, tetapi tidak semuanya berhasil diselamatkan.

 

“Iya, habis. Barang yang bisa keluar, tidak tahu di mana lagi posisinya, yang barang jualan saya itu. Saya jualan kosmetik,” ujarnya.

 

Ipah memperkirakan hanya sebagian dari seluruh barang dagangannya yang berhasil diselamatkan.

 

“ Barang yg masih utuh 100 persen itu ya sebagian aja kayaknya,” kata dia.

 

Barang dagangan yang hilang membuat Ipah harus kembali memikirkan bagaimana usahanya dapat berjalan.

 

Modal yang sebelumnya sudah dimiliki ikut terbakar sehingga ia harus menata kembali usaha tersebut.

 

“Iya, memulai semuanya dari awal lagi, dari nol lagi. Ibu minta doa, mudah-mudahan kami semua bisa pulih,” tuturnya.

 

Namun, kehilangan Ipah tidak berhenti pada rumah dan barang dagangan, salah seorang anaknya merupakan atlet yang tengah mempersiapkan diri mengikuti Porprov Kaltim 2026 di Kabupaten Paser pada bulan depan.

 

Perlengkapan olahraga yang digunakan anaknya ikut terbakar, termasuk sepatu untuk aktivitas paralayang.

 

“Anak saya itu kan atlet, tapi barang-barangnya habis terbakar. Untuk Porprov ini, bulan depan sudah tanding. Sepatu yang dia untuk terbang paralayang itu habis,” ungkapnya.

 

Kini, anaknya hanya memiliki pakaian yang melekat di badan.

 

“Anak saya itu ya baju di badan saja,” ucap Ipah.

 

Bagi Ipah, perlengkapan tersebut bukan sekadar barang. Ada persiapan menghadapi pertandingan yang ikut terdampak karena perlengkapan yang sebelumnya dimiliki sudah tidak ada.

 

Dengan berbagai kehilangan tersebut, Ipah memperkirakan kerugian yang dialami keluarganya juga mencapai ratusan juta rupiah.

 

Nilai tersebut mencakup rumah, barang dagangan serta barang-barang milik keluarga yang terbakar.

 

“Kalau kerugian, mungkin ratusan juta juga. Karena rumah, barang dagangan, sama barang-barang anak habis,” ujarnya.

 

Namun, bagi Ipah, kerugian materi bukan satu-satunya hal yang harus dipikirkan.

 

Rumah yang menyimpan kenangan keluarga serta perlengkapan anak untuk menghadapi pertandingan juga menjadi bagian dari kehilangan yang sulit digantikan.

 

Dalam kondisi itu, Ipah berharap keluarganya mendapat dukungan untuk melewati masa setelah kebakaran.

 

Ia berharap bantuan tidak hanya membantu kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memberi ruang bagi keluarganya untuk kembali menata kehidupan.

“Mudah-mudahan kami bisa dibantu, secara moral maupun materi,” tutupnya. (Kriz)